Pencerdasan Sikap Politik Ummat

Memasuki Tahun 2018, masyarakat Indonesia bersiap menghadapi Pilkada serentak. Bagaimana ummat Islam menyikapinya? Berikut sebuah pemikiran sederhana.

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ دِينَكُمۡ هُزُوً۬ا وَلَعِبً۬ا

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan.  (QS. 5:57).

 

Khalifah Umar bin Chattab pernah melontarkan pernyataan menarik. Seorang pemimpin, kata Umar, seringkali berbuat dzalim karena orang-orang yang dipimpinnya membiarkan kedzaliman itu. Ketika ummat atau rakyat yang dipimpin berusaha mencegah dan memerangi, sang pemimpin sangat mungkin akan berpikir panjang untuk meneruskan kedzaliman itu.

Pernyataan bijak itu memberi penegasan: Pertama, bahwa ada keterkaitan antara kedzaliman seorang pemimpin dengan respon dan sikap ummatnya. Bila ummat tak peduli pada sikap pemimpinnya secara tak langsung menjadi bagian proses kedzaliman seorang pemimpin.

Kedua, karena keterkaitan hubungan antara pemimpin dan ummat, maka menjadi kebutuhan penting ummat harus memiliki kecerdasan dan keberanian moral untuk melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Ummat tidak hanya berhak menuntut pemimpin bersikap adil tetapi harus pula memiliki keberanian mencegah kedzaliman dan sikap otoriter seorang pemimpin.

Keberhasilan pemerintahan pada dasarnya sangat tergantung keseimbangan dan kondisi proporsional hak dan kewajiban para pemimpin dan ummatnya. Ada interaksi yang bila dirancang dan dipersiapkan baik akan bermuatan positif antara pemimpin dengan ummat yang dipimpinnya sehingga menghasilkan out put kebijakan yang bermanfaat bagi seluruh ummat.

Seorang pemimpin yang amanah  menyadari bahwa ummat perlu diperhatikan dan senantiasa aktif melakukan kontrol. Kesadaran itu tidak akan membuatnya bertindak semena-mena mengeluarkan kebijakan yang merugikan ummat. Sang pemimpin selalu merasa akan diingatkan ummatnya bila mengeluarkan kebijakan menyangkut kepentingan ummat. Karena itu dia akan selalu berusaha semaksimal mungkin memperhatikan aspirasi ummatnya.

Di sinilah terasa penting kecerdasan politik ummat bila sebuah negara ingin menuju tataran kehidupan yang lebih baik. Ummat yang memiliki kecerdasan politik, akan bersikap kritis dari sejak awal terpilihnya kepemimpinan.

Ummat yang cerdas akan selalu bersikap rasional sehingga tidak akan memilih pemimpin yang memiliki potensi berbuat dzalim. Kecerdasan politik yang dimiliki oleh ummat akan membuka peluang lebih besar tampilnya seorang pemimpin berkualitas tinggi. Ummat akan bersikap hati-hati dalam memilih pemimpin. Dan hanya mereka yang memiliki kualitas moral dan intelektual serta visi dan misi terbaiklah yang akan dipilih, bila ummat memiliki kecerdasan politik tinggi.

Bila ummat memiliki kecerdasan politik akan berkembang kesadaran kepemimpinan yang terwujud dalam sikap aktif dan bertangungjawab dalam setiap proses pemilihan. Dan inilah yang diajarkan oleh Islam yang secara eksplisit menegaskan agar “Jangan memilih pemimpin yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan sebagaimana ditegaskan dalam surat Al Maidah ayat 57. Rasul pada bagian lain menegaskan agar ummat memilih pemimpin yang mencintai rakyat dan rakyat mencintainya. (HR. Muslim).

Memilih pemimpin dengan demikian bukan sekedar dan sebatas memilih tapi diikuti oleh tanggung jawab pilihan. Ketika seseorang memilih pimpinan, ia harus mempertanggungjawabkan pilihannya itu atas dasar kriteria-kriteria obyektif. Siapa orang-orang yang dijadikan pemimpin harus jelas dan  memenuhi kriteria serta dapat dipertanggungjawabkan dalam mengemban amanah kepemimpinan.

Ketiga, selesainya pemilihan tidak berarti melepaskan ummat dari tanggung jawab kepemimpinan. Ummat harus senantiasa mengawasi kerja pemimpin yang dipilih agar tidak menyimpang dari amanah dan tanggungjawab yang diembannya. Harus selalu ada keterkaitan hubungan antara pemimpin dan orang yang dipimpimpinnya.

Ketika seorang pemimpin berbuat dzalim, ummat tidak boleh bersikap diam. Ummat harus mengingatkan, menegor dan bila terpaksa mencegah secara keras dan tegas perilaku dzalim pemimpin. Bila tidak, kedzaliman akan berlanjut dan ummat secara tidak langsung telah membiarkan lahirnya seorang pemimpin dzalim. Rasulullah bersabda, “Pilihlah apakah kamu akan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar atau Allah akan menjadikan orang-orang jahat berkuasa di kalangan kamu. Kemudian setelah itu pemimpin-pemimpin berdoa kepada Tuhan tetapi Tuhan tidak akan mengabulkannya lagi.” (HR. Muslim).

Permainan

Kemampuan memilih pemimpin serta sikap aktif ummat dalam mengawasi pemimpin yang dipilihnya bila berjalan efektif akan menutup peluang terjadinya penyalahgunaan sebagaimana ditegaskan dalam Surat Al-Maidah di atas. Pemimpin yang terpilih tidak akan bermain-main apalagi menghianati ummat pemilih. Kepentingan ummat dengan demikian akan selalu mendapat perhatian pemimpin.

Sikap aktif ummat yang bertitik tolak dari kemampuan kecerdasan politiknya niscaya memberi  peluang terbuka lahirnya pemimpin-pemimpin amanah. Ummat tidak akan lagi menjadi korban permainan politik; kepentingan dan aspirasi rakyat tidak akan terabaikan karena para pemimpin senantiasa berada dalam kontrol ummat.

Dalam konsep kepemimpinan modern, bukan hanya pemimpin yang berhak mengontrol dan mengarahkan ummat. Para pemimpin harus dikontrol dan diarahkan ummat agar melaksanakan amanah dan tanggung jawab.

Di masa awal perkembangan Islam, banyak catatan indah yang menggambarkan berjalannya kehidupan demokrasi yang menempatkan pemimpin dan ummat pada posisi berimbang. Ketika Umar bin Chattab dilantik sebagai khalifah sempat  muncul suara nyaring dan lantang dari seorang sahabat, yang siap meluruskan sepak terjang kepemimpinan Umar dengan pedang. Dan Khalifah Umar menyambut kontrol itu dengan sikap terbuka sebagai bagian dari proses pengembangan kepemimpinan modern.

Secara jujur semangat seperti itulah yang  saat ini kurang berkembang di tengah ummat Islam Indonesia, yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia sehingga dalam berbagai kesempatan para pemimpin mudah sekali menghianati amanah yang diembannya.

Aspirasi ummat bukan menjadi pertimbangan utama lahirnya kebijakan pemimpin pemerintahan. Bahkan seringkali ummat menjadi korban kebijakan pemimpin. Celakanya, seringkali ummat bersikap apatis atau tidak peduli terhadap perilaku pemimpin yang telah ke luar dari semangat kepemimpinan bermoral itu.

Kecerdasan dan sikap aktif ummat dalam mengontrol pemimpin mutlak diperlukan, agar para pemimpin tidak berbuat dzalim dan menjalankan amanah kepemimpinan dengan penuh tanggung jawab. Sikap itu juga akan menjadi seleksi dan pendidikan efektif lahirnya pemimpin berkualitas tinggi, yang memiliki tanggung jawab moral pada ummatnya. Seorang pemimpin juga tak akan semena-mena karena akan kehilangan kepercayaan dari ummat yang memilihnya. Itu tentu saja, bila ummat memiliki kecerdasan politik. ***

 

Views All Time
Views All Time
40948
Views Today
Views Today
28

Comments 52

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar